I'm not a born writer......

| |
Berasap!!! Terbakar!!! Rentung!!!...... Itulah agaknya perkataan yang sesuai dituliskan untuk menunjukkan betapa "tension"nya untuk beberapa hari yang lepas dan beberapa hari akan datang... (permintaan artikel ISA to Geneva sangat memberangsangkan...)

Kenapa ya??? Well, I'm not a born writer....tak dapat nak cerita betapa sukarnya untuk memberi satu persembahan yang baik dalam penceritaan dan penulisan sejarah "trekking" aku menongkah arus akta syaitan ISA(pinjam dari Hanipa Maidin) yang kini masih menjadi sebahagian dari kehidupan ku...Alhamdulillah, Allah memberiku peluang merasai dan memahami, betapa seronok tetapi sibuknya jadi wartawan yang sentiasa berhadapan dengan dateline yang amat padat....( tapi aku hanya ada satu isu je!!!) Aku mengaku terpaksa akur dengan nasihat blogger Ummu Asiah ... kena juga belajar meminati novel-novel dipasaran terkini untuk melihat gaya dan fashion penggunaan bahasa dalam persembahan novel tersebut.... (Dia tahu aku tak gemar baca novel yang jiwang-jiwang nih!!)
Aduhh!!!!! Tengok tajuk saja dah berdebar!!! Apa agaknya isi didalamnya....? Selama ini, aku terlalu "absorb" dengan buku-buku ISA yang "keras" isi dan gaya bahasanya....

Mula-mula pegang buku ni dulu, terasa pelik siket... Maklumlah dah tua-tua begini, macam dah tak layak untuk melayan perasaan dengan novel-novel sebegini.... Tapi saya segera teringat pada seorang teman , setiap kali kami bertemu ,dia mesti membisikkan pada ku "Laila, we are not old yet...we are matured women..... keep in your mind....we are young at hearts!!!" katanya sambil mencuit hidung....Hmm... romantik sungguh Kak N, walaupun cucu dah berbelas, namun cerianya sama dengan remaja perempuan belasan tahun....
Ada juga kebenaran kata-katanya... Untuk berjuang, apatah lagi membuang syaitan ISA ni, "you and your spirit really have to be young and strong".... jika tidak, tak payah lah nak berbicara soal prinsip, perjuangan dan sebagainya.....


Ini satu lagi kreativiti yang ditonjolkan dalam penulisan untuk menggamit perasaan orang supaya membeli buku ini....Bila pandang saja, seolah olah isinya sangat trajis dan mampu menitiskan airmata..... Hmm...sesuatu yang baru telah ku temui di novel ini yang boleh memberi makna yang mendalam bila di aplikasikan kedalam isu ISA.... Apa dia?? Masih rahsia.....
Terimakasih pada Ummuasiah yang begitu rajin memilihkan buku-buku menarik untuk ku. Dia lebih memahami bahawa hatiku "mungkin sudah kematu" dari sebarang ayat-ayat cinta biasa...maklumlah, ISA telah menjadikan hati kami mangsanya, sedemikian rupa...




Mungkin ini adalah "the best remedy to lessen the tense ".Dan mungkin sekarang aku dah berfikir agak panjang... Makan buah dan cokelat mungkin lebih baik dari makan cokelat dan kacang.... Sekadar mempelbagaikan citarasa disamping menghargai segala nasihat dan pandangan ikhlas yang sering disampaikan padaku.....Ramai sangat yang ingin memberikan "care and concern" mereka....
Jika ada yang menegur, maknanya ramai yang sayang dan prihatin... itu adalah sesuatu yang sihat.... Sebagai seorang aktivis hak asasi manusia, aku sentiasa belajar untuk berlapang dada dan menerima pandangan orang lain kerana setiap manusia ada hak dan kebebasan untuk menyuarakan pendapat masing-masing. Namun ... dari segi tindakan biarlah aku pulangkan kepada individu tersebut bersesuaian dengan tahap kefahaman , keyakinan dan kemampuan masing-masing...
Setiap yang baik adalah dari Allah swt manakala salah dan silap adalah dari kesilapan dan kelalaian diri sendiri.




9 ulasan:

Tanpa Nama berkata...

Salam.

Terima kasih Kak Merah Hitam. Tak mengapa, tugas manusia itu hanya tidak lain dan tidak bukan menyampaikan. Kalau kak Merah Hitam tak setuju, saya memulangkan segalanya kepada Allah.

kakcikseroja berkata...

Salam...

membaca memang boleh meransang minda - InsyaAllah...

LanaBulu berkata...

Berat mata memandang berat lagi bahu yg memikulnya..Bersabarlah dan kami mendoakan agar kasih yg 'kesampingan' itu akan kembali mekar. Saya tabik pada kakak Laila.

Tanpa Nama berkata...

andai itu takdirnya..awal2 lagi sudah mengundang air mata..

julee berkata...

This country has racist laws that discriminate against minority citizens. Over the last 3 decades the discrimination has gotten from bad to worse.

The policies of this government reminds us of South Africa apartheid days which was condemned by all humanity.

I wonder how these racists can reconcile their actions with the tenets of their religion.

yuking berkata...

Good move by Kedah DAP. If handled properly, this will strengthen Pakatan.

To begin with, this is a decision at a DAP state level, where they said they will listen to the center. They hedged wisely.

It illustrates DAP is willing to give up power to protest (one Dun, three councillors and 43 village appointments).

While MCA is happy to fan the fire, did MCA quit the BN government when BN did wrong?

It illustrates a single DAP Dun seat can rock the national coalition, strengthening DAP position in the eyes of voters, and reassuring DAP supporters who voted for PAS. A win for DAP.

Also a win for Pakatan because Chinese supporters of PAS can see effective protest by coalition partner DAP even if they voted in a non DAP seat.

Same logic for voters of other states that are not yet under Pakatan. It illustrates DAP needs to get more seats come the next election. Another win for DAP.

This is another blunder by the unpopular Kedah MB. It increases consensus within Pakatan and the excuse to remove him later. He is just digging his own political grave.

They should now just delay the abattoir demolition, find a temporary location, then find a good permanent location.

Pakatan will be strengthened tremendously if this is resolved properly.

ruyom berkata...

If only the malays are a bit smarter, then BN won't win. The problem is malays are too damn stupid that they keep voting for BN. I don't know what poison BN gave to make them in this state.

vesewe berkata...

Part 1 - The origin of pendatang:

· Malays - come from Indonesia and Yunnan.
· Chinese - come from China.
· Indians - come from India.

Part 2 - Why they come to Malaysia:

· Malays - easy life, food aplenty around those days, like fish from the river etc.
· Chinese - looking for a living.
· Indians - looking for a living and goes back.

Part 3 - Pendatang's attitude:

· Malays - the words 'relax la', 'bantuan kerajaan' and 'cukup makan' are their daily words.
· Chinese - work, work and work but also spend.
· Indians - work, earn and save but spend little.

Looking at the mindsets of various pendatang. You tell me is it possible to be one Bangsa Malaysia? Never! For oil will never mix with water.

If you tell the Chinese to close down Chinese schools, the children will not taught to be hardworking anymore, so they become lazy and can they ask for bantuan kerajaan?

No! Right? So let the Chinese have more Chinese schools to teach the principle of hardworking, integrity, trustworthy etc, thus others can get more shares.

Those days the government control the Chinese schools is because of communist. Now where got communist again? Bodoh!

konek berkata...

Malaysia is slowly and surely turning into a very sick place. We must finish off Umno and its cronies to cure the country from this acute sickness.

[ Merah Hitam © 2009 ]
[ Designed by وان ][ Powered by Blogger ]

[ Top ]
[ Home ]